Di Sini Tanpamu




She's imperfect, but she tries

She is good, but she lies

She is hard on herself

She is broken and won't ask for help

She is messy, but she's kind

She is lonely most of the time

She is all of this mixed up and baked in a beautiful pie

She is gone, but she used to be mine

It's not what I asked for



Sometimes life just slips in through a back door

And carves out a person and makes you believe it's all true

And now I've got you

And you're not what I asked for

If I'm honest, I know I would give it all back

For a chance to start over and rewrite an ending or two

For the girl that I knew

Hai...

Kuusap nisan hitam di hadapanku, perlahan jari-jemariku menyusuri guratan namamu yang terukir indah di sana.
Sudah lama aku tidak berkunjung ke nisanmu. Kurasa bisa kau tebak, aku rindu padamu... Dan itulah sebabnya aku di sini sekarang. Tidak menangis, hanya tersenyum hangat... Sehangat senyum yang selalu kukenang dalam sel kalbuku.

Senyum yang masih kukenang sampai kapan pun. Senyummu yang membawaku pada hari itu...

***

"Hai!" ia masuk menembus pintu dengan kecepatan penuh. Menghempaskan tubuhnya di sofa kamarku yang empuk. Aku hanya mengangkat muka sedikit dari Agatha Christie-ku yang sudah hampir lima hari hanya bergerak 2 lembar dari halaman 39 ke 41.

Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Bisa tidur semalam?" sergahnya sembari meletakkan kompres portabel di pangkuanku. "Tinggal dimasukin ke frezer sebentar, trus tempelin ke situ" sambil menunjuk tepat ke kelopak mataku yang mulai bengkak dan menghitam. 

Aku bergerak dan merapatkan tubuhku padanya. "Bisa minta resep kaya yang kemarin?" aku mendesah sesaat, "kemarin gue ke apotek, minta obat yang loe resepin kemarin. Mbaknya nggak mau ngasih, harus dengan resep dokter, katanya. Terus dia ngasih gue obat tidur a la a la ini!" melontarkan sebungkus ke atas pangkuannya. 

Ia mendengus keras, bangkit dengan wajah kesal. "Gob**k! Iyalah, itu obat keras! Loe pikir apotik punya nenek moyang loe!" Ia mendelik tepat 3cm di depan mukaku, "lebih go**k lagi orang pinter yang nggak bisa baca resep. Gw kan ngasih loe resep buat 3 hari! Ini baru hari kedua!" Suaranya berdenging nyaring di telingaku. 

Aku hanya meringsak tenggelam lebih dalam ke dasar sofa, bersembunyi di balik Agatha Christieku yang sampulnya agak basah karena semburan amarah nan basah. 

Tapi ia lalu mundur, mengusap kepalaku sesaat, lalu meringsek memeluk lenganku lalu berhenti berkata-kata. Dan kami hanya diam. 

Sungguh sulit tetap melanjutkan buku detektif kesukaanku sekarang. 

***

Ia menyesap pelan "anggur" murahan yang kami pilih asal-asalan dari hypermarket terkenal. Rasanya jauh dari Pinot Noir mahal yang kami coba sebelumnya. Jauuuuhhhhh... bagaikan bumi dan langit. 

"Loe udah minum inc***l?" agak khawatir ia mulai meraba-raba nadiku ketika aku reflek garuk-garuk tangan. "Udah! Gue cuma digigit nyamuk. Masa loe harus meriksa nadi gue!" 

Dia berkeras, "Kali aja ada anomali, kadar obatnya udah nggak mempan lagi. Klo loe cm garuk-garuk doang, gue bisa bikin alasan loe salah makan. Kalo loe sampai sesak nafas kan yang susah gue juga."

"Cuma digigit nyamuk," sergahku asal-asalan. Sambil menuang gelas kelimaku. Ia menahanku sesaat. Aku hanya melotot padanya. Dan ia menarik tangannya dari tanganku. Membiarkan aku dan upayaku menghancurkan diri. 

Ia kembali mengusap kepalaku, kali ini agak keras, lalu hanya diam menatapiku. 

***

Kami duduk di meja atas, menikmati suara emas Blake Shelton yang menyapa melalui layar setinggi 2 lantai ini. Ia sudah menghabiskan kotak keduanya, sementara aku satu saja masih sisa banyak. 

"Buat ukuran anak kemarin sore, loe oke juga sih," sambil manggut-manggut memandangiku yang berasap sambil ikut berdendang. "Gaya loe udah kaya perokok profesional," lanjutnya. "Pelan-pelan, dihayati." 

Aku tergelak sedikit, "loe tau kenapa gue ngisepnya pelan-pelan?" Ia hanya mengangkat bahu. "Karena gue sadar kalau gue sedang ngebakar duit loe. Loe kerja seharian ngurusin anak-anak di sekolahan, sebagian besar hasilnya kita bakar begini."

Senyumnya merekah lebar. Menatapku dengan bangga tak berperi. "Otak loe masih jalan ya. Udah pinter lagi dia!" lalu tertawa hingga terbatuk-batuk. Membuatku harus memegangi meja tinggi di hadapan kami yang mulai terhuyung. 

***

Aku tak tahu sudah berapa lama kebiasaan itu berjalan, hingga tiba hari di mana ia mulai menolak menemaniku. Menolak minuman yang kubeli, menolak rokok yang kubawakan, menolak menemaniku... dan aku kehilangan. 

Ia yang menularkan kebiasaan itu padaku... dan mendadak ia hanya terkadang duduk diam di hadapanku. Menjauhi benda-benda yang semula menjadi sahabatnya ---selain aku. 

***

Ia duduk di sofaku, merengkuh erat tanganku. Sambil menghadap langit-langit kamar, kami hanya berdiam menikmati hawa dingin kamarku. Gadis kecilku berkali-kali berkeliaran keluar masuk kamar. Tidak hirau pada kami. 

Lalu ia menggenggam lebih erat tanganku, seolah tak mau lepas. Aku meringsek hendak menatapnya ketika ia mulai menangis. 

"Gue tau loe sedih... sedih sekali. Gue paham rasanya patah hati... udah puluhan kali lebih banyak daripada loe. Tapi udah dong... Nangis aja... teriak aja... jangan lanjutin cara-cara kuno itu." 

Aku berusaha melepaskan lenganku. Tapi ia memeluknya kian keras. Masih menatap kosong langit-langit dengan air mata runtuh. 
"Gue kangen loe yang pinter, yang suka ngomong fakta-fakta nggak penting, yang suka nyeritain berita di tivi yang nggak pernah gue tonton. Kasih tau lagi kenapa kucing suka ngeluarin suara aneh di sekitar loe, dan kenapa kalo sama gue mereka kayak mau nggigit. Ingetin gue lagi kalau anggur murahan macam yang kita minum itu bikinnya diinjek-injek pakai kaki telanjang. Kasih tau gue lagi, isi kuliah komunikasi loe, metode penelitian apaan tuh yang loe pake buat nganalisis acara tivi anak. Loe udah tua kok masih nonton film kartun."

Suaranya terhenti berganti dengan sengguk keras yang memaksaku menggunakan kekuatan penuhku untuk melepaskan diri. 

"Jangan begini lagi! Gue ngerti loe sakit... gue tau loe pengen dia kembali... tapi loe tau kalo itu juga percuma. Gue tau sakit loe sia-sia. Makanya loe nggak mau minta tolong. Nggak mau nangis. Belagu, keras kepala, sok kuat!"

Aku tercekat, bahkan isi kepalaku terasa kosong. Tak ada satu pun kata yang menggantung di kepalaku, selain... "gue cuma pengen lupa."

Lupa dengan masa-masa indah itu, lupa dengan wajahnya, lupa dengan panggilan sayangnya, lupa dengan semua kenangan yang hanya sebentar saja, lupa bau tubuhnya, lupa dengan apa yang terjadi kemudian. Lupa dengan kehilangan tiba-tiba yang membuatku tak sempat bertanya, salahku apa? Kurangku apa? Kenapa tidak memilihku? Kenapa... tidak berpamitan. 

Dan tangisku pecah, lengkingan suaraku memanggil gadis kecilku masuk ke kamar. Membuatnya harus membawa puteri kecilku keluar kamar, lirih kudengar, ia berkata kalau mama sedang sakit, dan menitipkan sebentar ke pengasuhnya yang ikut keheranan di balik pintu. 

Tangisku buncah, emosiku bergolak dan ia hanya memelukku keras. Membiarkan air mata bercampur ingus dan entah berapa banyak iler membasahi baju dinas sekolahnya. Ia tidak lagi berkata-kata, tidak juga memintaku berhenti. Hanya memelukku erat, seolah berusah menghilangkan dera di dadaku. 

***

Aku menghabiskan malam di rumahnya, ia meminjamku dari suami dan puteri kecilku. Katanya, ia butuh teman curhat, sedang tidak mau sendiri menghadapi perceraiannya. 

Dan tidak... ia tidak bercerita apa-apa padaku. Aku menghabiskan malam hanya untuk menangis dan menangis, sampai sekujur tubuhku gemetar, bukan karena dingin. Berkali-kali ia hanya meringsek membawakanku teh hangat. Semalam suntuk kejadian yang sama berulang, tanpa ada keluh darinya. 

***

Pagi itu, mataku bengkak besar. Tumpukan kompres itu tidak bekerja sebagaimana mustinya. Aku bahkan sudah terlalu lelah menangis. Sementara ia terkapar di sampingku dengan sebagian tubuhnya menjuntai ke lantai. Wajahnya tampak sangat lelah. 

Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku meneteskan lagi airmata. Bukan untuk diriku sendiri, bukan karena masalahku... tapi karena haru biru yang sesak memenuhi rongga hatiku karena upaya kerasnya menyembuhkanku dari candu bernama cinta ini. 

Ia terbangun dalam kejut, melompat menatapku, "kenapa? Mau minum? Gue bikinin teh anget lagi ya." 

Dan tangisku buncah lagi, sembari memeluknya erat. Seerat yang aku bisa. Andai setiap tetes yang tumpah bisa menggantikan ucapan terima kasih dan syukurku atas adanya. Ia hanya diam, mengusap kepalaku seperti biasa. 

***

Pagi itu, kami sarapan telur ceplok balado--buatannya. Yang selalu kukomentari karena kurang pedas dan kurang asin. Kali ini aku makan dengan semangat, telurnya enak sekali. 

"Gue capek sedih terus. Gue capek nangis diem-diem terus. Dan gue capek nangis semalaman. Lebih dari itu... gue capek pura-pura nggak kenapa-napa. Gue juga nggak suka sama semua wine yang kita minum... kecuali pinot noir itu. Gue pikir gue bisa mabok klo minum itu. Taunya nggak juga. Dan... Gue lebih nggak suka sama rokok. Bikin mulut bau doang, nggak bikin apa-apa juga. Kok loe suka sih ngerokok?! Buat apa?" cerocosku tiba-tiba. 

Gumpalan nasi dan telor balado nyaris pindah ke mukaku ketika mendadak ia tergelak keras. Tertawa panjang tanpa henti dengan mulut sedikit-sedikit menyemburkan nasi. Aku pun jadi ikut tertawa. 
"Dasar Gob**k!" makinya. 

Kuoper wadah minum berisi nutrisari hangat kesukaannya. Sambil berbisik pelan, "makasih ya... untuk segalanya." Ia hanya manggut-manggut, masih tetap tertawa kecil. 

"Berapa harga pinot noir itu?" sergahku tiba-tiba. 
"Mau loe?"
"Berapa?" 
"Seperempat gaji gw"
Kali ini aku yang nyaris memindahkan bongkahan nasi dan telur balado kemukanya. 

***

Hari ini kami menghabiskan waktu nonton kang Blake Shelton dan David Foster lagi, di tempat biasa. Kali ini hanya dia yang 'membakar uang', aku hanya menemani sambil bernyanyi dengan suara parauku. Menyesap minuman kesukaanku, leachy tea yang terbukti lebih enak bahkan dari pinot noir sekalipun. Sederhana saja karena tidak perlu minum obat anti alergi dulu. 

"Loe udah bisa ngelupain dia?" tanyanya tiba-tiba. 

Aku berfikir sejenak sebelum menjawab. 
"Belum tuh.
Tapi ya sudah lah. Anggap saja menolak lupa adalah cara-Nya mengingatkan gue kalau gue pernah memilih langkah yang salah.
Walau cintanya nggak pernah salah. 
Walau kamipun akhirnya yang membuat semua jadi salah... atau jadi masalah.
Toh, pada akhirnya dia pergi. Karena memang dia harus pergi. 
Untuk dia... untuk gue juga... ini yang terbaik."

"Banci dia!" sergahnya sambil menyembur asap besar ke mukaku. Membuatku terbatuk-batuk. 

"Nggak usah nyalahin dia juga kali. Emang yang salah cuma dia doang? 
Gue aja yang gob**k. 
Mau aja main api. Udah tau kalau bakal kebakar.
Justru jalan yang dia pilih membantu gue kan?" 

Dia menghempaskan putungnya yang masih panjang ke asbak, mematikan bara. Menyesap sedikit es lemon tea-nya dan menuangkan setetes dari ujung sedotan untuk mematikan bara yang masih tersisa.
Ia tersenyum lembut dan bangga padaku.  
"Kalau gue, entah apa gue bisa berfikir seperti kalian. 
Gue salut sama kedewasaan loe!
Gue salut sama cara mencintai orang dewasa!" sambil mengangkat gelasnya ke depanku. 

"Temennya siapa dulu? Gurunya siapa?" kubenturkan gelasku ke gelasnya. 

Dan kami tertawa terbahak, keras sekali. 
Sebentar lagi kami pasti diusir. 

***

Lalu di sini, kembali aku di depan nisanmu. Begitu kehilangan pelukan hangat dan kuat yang menghempaskan semua duka lamaku. 

Lalu di sini, aku tanpamu...
Tanpa senyummu yang menguatkan. 

Lalu di sini, aku tanpamu...
Dengan bersama semua kenangan penuh rasa itu... aku persembahkan hidupku untuk menguatkan kamu-kamu yang lain. Dengan langkah kecilku, dengan tubuh lemahku, dengan kemampuan pas-pas-anku. Akan kupastikan bahwa dunia melihat, bahwa kamu adalah pengaruh luar biasa untukku... yang membawaku pada hari ini. 

Jadi... bahkan ketika dunia sudah memisahkan kita, kamu di sana akan tetap bisa memandangku bangga dan bersulang dengan es lemon tea. 

Chers!

She is messy, but she's kind
She is lonely most of the time
She is all of this mixed up and baked in a beautiful pie
She is gone, but she used to be mine

Komentar

Postingan Populer